April 27, 2019

Eksistensi Nilai -Nilai Kebudayaan Bugis

review

Kebudayaan Bugis Makassar adalah kebudayaan dari suku Bangsa Bugis Makassar yang mendiami sebagian besar daerah di Pulau Sulawesi Selatan.

Ada berbagai nilai-nilai kebudayaan yang dianut oleh suku Bugis Makassar, salah satunya yakni “Siri’ na pacce”.

Nilai tersebut adalah salah satu pedoman suku Bugis dalam menjalani kehidupannya dantelah ada sejak ratusan tahun lamanya yang merupakan budaya luhur nenek moyang dan masih dijunjung tinggi hingga sekarang meskipun telah banyak mengalami pergeseran makna seirinh dengan berkembangnya zaman.

Budaya “Siri na pacce” mengandung nilai-nilai yang universal yang mengajarkan seseorang untuk peduli terhadap kesulitan hidup sesama manusia, tolong-menolong, dll. Dengan kata lain nilai-nilai kebudayaan yang ada  dalam suatu masyarakat tertentu khususnya di suku Bugis Makassar mempunyai peranan membentuk kepribadian manusia sebagai individu begitupun sebaliknya.

Budaya ”Siri Na Pacce” mempunyai kontribusi yang tak ternilai harganya bagi individu, pribadi-pribadi maupun bagi masyarakat. Budaya modern sekarang ini telah banyak  merubah kearifan lokal yang menjadi warisan nenek moyang , baik dari krisis kemanusiaan hingga budaya-budaya kini di abaikan dari setiap sektor kehidupan yang ada.

Ada berbagai nilai-nilai yang membentuk karakter seseorang di suku Bugis Makassar. Misalnya saja, Siri’ : inti dari kebudayaan bugis ini adalah berkaitan dengan harga diri, dan rasa malu (biasanya berkaitan dengan objek tertentu misalnya prestasi, dilanggar hak dan martabat dirinya, dan yang berkaitan dengan gengsi); pesse’: kebudayaan bugis yang mengikat tali kekerabatan dan  persaudaraan dalam masyarakat; Getteng: tegas dalam mengambil keputusan, teguh pendirian, tabah, dan tahan terhadap godaan; Asitinajang: arif, bijaksana, dan adil (equity) dalam bertindak; Lempu: bersikap jujur, taat asas; Acca: pintar, cerdik, cendikia, dan kreatif; Reso: usaha, ikhtiar dalam mencapai suatu tujuan.

Nilai budaya ini berfungsi sebagai motivasi dalam mencapai sebuah keberhasilan, memacu semangat masyarakat suku Bugis Makassar untuk bersaing dalam sebuah kegiatan-kegiatan usaha. Semua nilai kebudayaan tersebut saling bersinergi atau saling berdinamika, bagi orang Bugis-Makassar bekerja keras (reso) merupakan cara untuk mempertahankan siri’ (harga diri).

Dalam bekerja senantiasa bertekad (getteng) untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Selama bekerja senantiasa menjaga norma-norma (lempu) dan berusaha menemukan alternatif menyelesaikan pekerjaan secara cerdas dan kreatif (acca). Setelah semua usaha (reso) dilakukannya; baru berpasrah diri kepada takdir Tuhan, tapi ia yakin takdir Tuhan tidak akan hadir tanpa usaha.

Setelah berhasil dalam usahanya ia menikmati dengan membelanjakan secara wajar (asitinajang) dan sebagian digunakan untuk menyantuni kerabat yang memerlukan (pesse’). Proses inilah yang sekarang sangat jarang untuk ditemukan.

Dalam kenyataan hidup masyarakat suku Bugis Makassar ada banyak nilai nilai yang tercecer,  terabaikan, terlupakan, tidak menjadi hal yang berharga lagi  dan kurang diman-faatkan demi eksistensi budaya bugis itu sendiri. Hal yang tampak besar bergeser di dalam kehidupan kita, seperti nilai pajjama (etos kerja), nilai assitinajang (kepatutan – sopan santun), sipakatau (saling menghargai), getteng (tegas dan konsisten), dan lempu (kejujuran).

Selain itu, masalah disiplin semakin terasa longgar. Kenyataan ini dianggap  pergeseran nilai nilai siri’, sementara upaya  pembinaan dan pemberdayaan nilai-nilai budaya (siri’) belum tampak sehingga ada kesan bahwa pergeseran nilai-nilai siri’  itu merupakan ekses yang harus diterima dan dibiarkan berlangsung terus tanpa upaya yang konkrit ke arah  pembinaan dan pengembangannya.

Fenomena  riil yang dapat kita saksikan bahkan sering menjadi tontonan masyarakat Indonesia secara luas, orang sulawesi Selatan-lah yang paling mencolok dalam hal ketidakmampuan memegang nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh nenek moyang.

Seakan nilai dan petuah yang dilontarkan hanyalah keluar dari bibir manis, tapi tak mampu untuk dipegang teguh dan diaplikasikan dengan sepenuh hati.
Beberapa kasus yang pernah terjadi di beberapa tahun yang lalu, yakni diantaranya pernyataaan Alfian Mallarangeng (juru bicara presiden dalam KIB I) menyatakan bahwa belum saatnya orang sulawesi Selatan menjadi pemimpin.

Sikap Alfian ini pun menjadi perhatian hati warga dan membuat kecaman terhadap dirinya. Berikutnya kasus anggota DPR-RI asal Sulawesi Selatan yang kemudian menyerang ketua DPR-RI Marzuki Ali, karena dianggap tidak fair dalam Musyawarah, Kasus PSSI yang melibatkan tokoh Sulawesi Selatan diantaranya Nurdin Halid dan Alfian Malarangeng (MENPORA), yang tentunya juga melibatkan Andi Darussalam, George Toisuta.

Ditambah lagi dengan kasus-kasus KKN yang melibatkan tokoh –tokoh yang berasal dari Sulawesi Selatan. Entah ada apa dengan pemimpin kita saat ini yang duduk di Eksekutif, legislatif, maupun yudikatif yang tentunya berasal dari Sulawesi Selatan.

Tentunya masih banyak hal bisa kita saksikan secara kasat mata bahwa Nilai- nilai budaya  yang diajarkan untuk dipahami dan diamalkan dalam kehidupan kita ternyata tinggal sejarah yang hanya bisa diukir dibatu yang besar dan selanjutnya hanya menjadi simbol.

Mencermati hal tersebut, seakan nilai siri (malu), assitinajang (kepatutan – sopan santun), sipakatau (saling menghargai), getteng (tegas dan konsisten),  lempu (kejujuran) tak ada lagi artinya dalam nuansa kehidupan yang serba modern. Jika masyarakat tidak mampu lagi membedakan mana yang baik dan yang buruk  serta mata hatinya telah buta dan menjadi bati maka hanya ada satu yang bisa terjadi yakni sebuah kehancuran.

Padahal,  Jika dalam kehidupan ini,  nilai –nilai tesebut dijalankan dan senantiasa diamalkan serta tetap dipertahankan, maka kehidupan ini terasa indah dan damai.


Tujuanku membuat blog ini, cuma untuk berbagi ilmu, pengalaman dan cerita-cerita saja. karena ngeblog kita hanya menulis apa yang kita mau. Jadi Ngeblog juga membuat aku menghibur diri sendiri

Next
This Is The Current Newest Page


EmoticonEmoticon