August 11, 2016

Apakah Mungkin?

Apakah mungkin?

Aku  tidak tahu sejak kapan kurasakan kegelisahan ini, semua hal yang kulihat di sekelilingku tidak seperti apa yang kuharapkan. Dulu saat kecil sering aku menonton film yang memperlihatkan masa dengan yang begitu canggih dengan segala perkembangan teknologinya. Melihatnya saja membuatku membayangkan betapa nyamannya dunia saat kutumbuh dewasa nanti. Teknologi yang canggih berdampingan dengan sejuknya aroma bunga dan rindangnya pepohonan di setiap sudut kota. Tapi semua itu hanya ada dalam dunia fiksi atau hanya settingan film hollywood. Bersamaan dengan berakhirnya film itu, maka hilang pula dunia khayalan yang indah itu.

Kulihat di balik jendela kamarku, dan asap kendaraan bermotor mengawali hariku. Asap kendaraan bermotor itu selalu menyelimuti tubuhku. Kubuka pintu rumahku dan seketika suasana berubah menjadi panggung pertunjukan. Aroma sampah di pinggir jalan melengkapi penampilan. Tulisan dan gambar yang acak-acakan menghiasi latar panggungku. Sorakan klakson mobil dan motor membuatku ingin segera mengakhiri penampilanku hari ini. Kuberjalan melewati hari ini dengan panggung pengap yang menyesakkan seluruh inderaku.

Bertahun-tahun kulewati masa hidupku di kota yang penuh polusi ini. Tapi kini kudapatkan kesempatan meninggalkannya sejenak, menuju wilayah bumi yang lebih bersih. Sebuah tempat yang jauh dari gemerisik ibu kota. Tempat yang lebih memperlihatkan luasnya ladang dibanding luasnya lahan perumahan. Tempat yang menunjukkan lebih banyak tanah lapang dibanding beton dan aspal. Tempat yang lebih hijau dan nyaman. Sebuah desa yang berada di puncak gunung. Butuh waktu 5 jam untuk mencapainya. Mereka menyebutnya desa Kelangan.

Aku tak tahu mengapa tempat senyaman ini hanya ditinggali oleh beberapa orang saja, bahkan aku sendiri sudah dapat mengenal seluruh penduduk desa hanya dalam waktu satu hari. Rumah yang cukup berdekatan menandakan bahwa mereka tetap akrab seakan-akan rumah mereka tetap bergandengan. Setiap rumah memiliki satu atau dua pohon di dekatnya. Mereka sering membagikan buah yang mereka dapatkan dari pohon dekat rumah mereka ke tetangga.

Di sini aku tinggal bersama sepupuku dan ayahnya. Pamanku merupakan salah satu petani di desa tersebut. Setiap panen dia menyisihkan setengah hasil panennya untuk dibagikan ke tetangga, kemudian sisanya dia jual atau untuk makan sekeluarga. Namun kini dia terbaring sakit, hingga aku diminta sepupuku untuk membawakan obat dari kota untuknya. Kini sepupukulah yang harus kerja mengurus ladang ayahnya.

Suasana di desa Kelangan ini sangat berbeda dengan suasana di kota. Sinyal untuk menelepon sangat sulit di dapatkan, hanya satu tempat yang mendapat jangkauan sinyal yaitu di rumah kepala desa, tepatnya hanya ada di bagian gudang saja. Kemudian penggunaan listrik pun hanya berlaku pada pukul 5 sore sampai 6 pagi, mereka betul-betul menerapkan sistem hemat listrik dari pemerintah. Disini tidak ada televisi maupun radio. Mereka juga masih menggunakan surat sebagai alat komunikasi jarak jauh mereka, tukang pos pun biasanya datang seminggu sekali. Namun disini merupakan tempat yang ternyaman yang pernah aku tinggali. Udara yang sejuk, hijaunya tumbuhan dan ladang pertanian menghiasi mataku. Disini aku belajar bertani untuk membantu sepupuku yang menggantikan ayahnya bekerja, selain itu disini juga aku bermain bersama sepupuku dan teman sebayanya beberapa permainan tradisional yang sangat seru. Hingga tak terasa sudah sebulan kuberada disini.

Hari-hari yang indah di tempat yang layak kusebut sebagai taman kebahagiaan. Dan kabar baik pun datang, pamanku telah sembuh dari penyakitnya. Namun itu juga merupakan kabar buruk bagiku, dimana aku harus kembali ke kota. Awalnya aku tak ingin pergi, namun aku juga harus melanjutkan pendidikanku disana. Di suatu malam, sehari sebelum kepulanganku ke kota, aku melihat sepupuku sedang duduk di atas pohon dekat bukit. Aku mendatanginya, kulihat dia sedang melihat langit yang baru kusadari begitu berbeda dengan langit di kota. Bintang-bintang bersinar dengan terang dan menunjukkan keindahannya. Di malam yang dingin itu sepupuku menanyakan sesuatu yang menggetarkan jiwa. 

“Mengapa yah, jika desa yang awalnya tentram dan hijau bisa berkembang menjadi kota yang berisik dan berdebu? Haruskah kita merelakan kebersihan dan kesejukan desa ini bila ingin mendukung perkembangan teknologi di kota?” 
Secara langsung aku terdiam dan tak mampu menjawab apapun. Dia pun menurunkan pandangannya padaku,bertanya lagi. 

“Tidakkah sebagai manusia kita harus berkembang? Apakah tidak mungkin kecanggihan teknologi dan keindahan alam hidup berdampingan? Tidak bisakah mereka hidup berdampingan seperti manusia yang saling membutuhkan?” Tapi tetap saja, aku tak mampu menjawab bahkan mengeluarkan satu kata pun.

Keesokan harinya aku pulang ke kota, kuberi salah satu handphone pada sepupu agar ia mudah memberiku kabar jika terjadi sesuatu lagi di sana. Dalam perjalanan pun aku masih tetap memikirkan perkataan sepupuku semalam. Apakah mungkin ada masa dimana kita bisa merasakan kehebatan teknologi dan keindahan alam secara bersamaan? Pertanyaan itu terus terlintas dalam pikiranku selama menuntut ilmu di kota, dan kuharap suatu hari kudapat menjawabnya dengan kata “YA”. (*)

Created by Dmitria Aminov


EmoticonEmoticon