March 4, 2015

Anamnesis Neurologis


Kesehatan
Dalam tahun-tahun terakhir ini, diagnosis dan tata laksana penyakit system saraf telah banyak mengalami revolusi dengan adanya teknik pemeriksaan penunjang dan terapi-terapi baru. Akan tetapi keterampilan klinis dasar dalam anamnesis dan pemeriksaan fisik tetap merupakan dasar ilmu neurologi, seperti halnya cabang lain dalam ilmu kedokteran.
Diagnosis neruologis
Diagnosis neruologis secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian:
1.    Anatomis: di manakah letak lesi dalam system saraf?
2.    Patologis: apakah proses penyakit yang terjadi pada lesi tersebut?

Pembagian ini sangat menolong karena dapat mengurangi kemungkinan kebingunan yang disebabkan oleh banyaknya kemungkinan lokasi gangguan neurologis.
Riwayat penyakit merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan diagnosis anatomis dan patologis. Bahkan, banyak pasien neruologi tidak datang dengan tanda klinis yang jelas, atau hanya memiliki gambaran fisik yang dapat mengkonfirmasi dugaan klinis berdasarkan anamnesis penyakit.
Akan tetapi kadang-kadang, terutama pada masalah yang kompleks, anamnesis hanya dapat menyajikan suatu daftar pendek dari lokasi-lokasi potensial terjadinya lesi dan penentuan lokasi akhir harus meunggu pemeriksaan formal. Hal ini disebabkan penyakit pada satu lokasi lesi di system saraf dapat menyebabkan gejala yang menyerupai lesi di tempat lain.

Riwayat penyakit sekarang
Bagaimana cara terbaik mendapatkan riwayat penyakit untuk memberikan informasi diagnosis yang maksimal? Peraturan penting yan pertama adalah membiarkan pasien berbicara dahulu tanpa dipotong. Kebanyakan pasien dapat memberikan gejala penyakit dalam dua atau tiga menit dan waktu untuk mendengarkan pada tahap ini tidak terbuang.
Keluhan utama dan lamanya keluhan biasanya dapat ditetapkan dalam tahap awal anamnesis, bersamaan dengan tiga informasi esensial pasien:
  1. Usia. Beberapa gangguan neruologis berhubungan dengan kelompok usia tertentu.
  2. Pekerjaan Pasien mungkin mengalami pajanan tertentu terhadap toksin atau agen potensial penyebab penyakit lainnya sehubungan dengan pekerjaannya.
  3. Kidal atau tidak. Untuk mendapatkan informasi mengenai hemisfer serebri dominan.
Untuk menetapkan sejauh mana ketidakmampuan pasien jika gejala terjadi pada ekstremitas atas.
Setelah pasien mendeskripsikan gejalanya, biasanya perlu diselidiki keluhan penyakit pada area-area yang spesifik. 

Waktu timbulnya gejala
Penentuan gambaran waktu timbulnya gejala sangat penting untuk diagnosis patologis:
-    Onset,
-    Progresi
-    Durasi
-    Perbaikan
-    Frekuensi (kekerapan).
Contohnya, pasien dapat mengeluhkan kelemahan pada satu sisi tubuh yang mengarah pada lesi hemisfer serebri kontralateral. Pertanyaan mendetail lebih lanjut mengenai waktu terjadinya gejala dapat mengklarifikasi perjalanan patologis dari lesi ini.

Jika anamnesis riwayat penyakit hanya mengungkap sebagian diagnosis anatomis, maka untuk menyikirkan daftar kemungkinan lesi potensial dapat diajukan pertanyaan langsung.
Sebagai contoh, pasien dengan keluhan baal pada kedua tangan dan kaki kemungkinan memiliki gangguan difus pada semua saraf perifer ekstremitas (polineropati sensorik). Tetapi keluhan serupa dengan gambaran kehilangan sensorik pada tangan dan kaki yang berbentuk sarung tangan dan kaus kaki kadang dapat disebabkan oleh lesi medulla spinalis servikal, yang menyerupai polineuropati.
Batas atas gejala

Hal yang berguna untuk lebih menajamkan diagnosis dalam anamnesis neruologis adalah dengan memeriksa batas atas anatomis dari suatu gejala. Jadi , pada pasien dengan kelemahan diagnosisnya banyak. Tetapi jika kita dengan spesifik menanyakan apakah ada gejala serupa pada lengan ipsilateral maka akan mempersempit kemungkinan diagnosis. Jadi pasien lebih mungkin mengalami hemiparesis yang disebabkan ole lesi pada sisi otak kontralateral dibandingkan diagnosis lainnya.

Seorang blogger personal yang suka berbagi informasi menarik dan masih belajar dalam hal menulis artikel yang bermanfaat serta berkualitas. Menekuni blogging sejak tahun 2014


EmoticonEmoticon